1. Cermati fasilitas yang wajib tersedia. • Ruang belajar yang sehat, luasnya sebanding dengan jumlah anak, aman, dan nyaman bagi anak. Pastikan sirkulasi udaranya baik, pencahayaan cukup, kelas tidak terlalu lembap, tidak ada sarana atau prasarana belajar yang dapat membahayakan anak, • Ruang bermain/playground yang aman, sesuai dengan jumlah siswa yang ada, terdapat sarana untuk melatih motorik kasar anak (misalnya: ayunan, perosotan, monkey bar, titian pelangi, jungkat jungkit, jembatan goyang, area untuk bermain bola/ sepeda). • Toilet yang bersih dan ukurannya disesuaikan dengan usia anak (misalnya: urinoir dan wastafel berukuran kecil dengan peletakan yang sesuai dengan tinggi anak). • Media belajar berupa mainan yang bervariasi untuk bermain peran, balok-balok aneka bentuk dan ukuran, aneka bahan untuk membuat hasta karya, area bermain pasir dan air, serta aneka bahan alam. • Ada area belajar yang menggunakan meja kursi (terutama untuk kegiatan yang menggunakan pensil dan kertas), namun ada pula area lesehan untuk kegiatan berkelompok, eksplorasi, dan bermain. • Perpustakaan, anak boleh membaca dan meminjam buku yang disukainya, judul buku beraneka ragam, buku-buku tidak disimpan di ruang kepala sekolah atau di lemari yang terkunci sehingga sukar diakses anak.
  2. Idealnya jarak sekolah dengan rumah tidak terlalu jauh. Waktu tempuh maksimal 30 menit agar anak tidak kelelahan saat tiba di sekolah.Pertimbangkan pula faktor kemacetan yang dapat membuat anak terlambat tiba di sekolah. Terlambat datang ke sekolah dapat memengaruhi mood anak karena ia kurang mendapatkan waktu “pemanasan” yang cukup sebelum masuk kelas.
  3. Rasio tenaga pengajar dan siswa. Idealnya, jumlah siswa untuk KB adalah 10—12 anak dengan 2 guru. Sedangkan untuk TK adalah 15—20 anak dengan 2 guru pula. Jika ada siswa berkebutuhan khusus, maka dibutuhkan guru pendamping khusus.
  4. Waktu atau jam sekolah. Jam sekolah dan frekuensinya juga perlu diperhatikan. Untuk anak yang KB lebih baik tidak perlu terlalu lama sehingga anak tidak akan menjadi bosan dan lelah, cukup selama maksimal 2,5 jam saja. Sedangkan untuk usia TK sekitar 3—4 jam. Demikian pula dengan frekuensinya, kelompok bermain cukup 2—3 kali seminggu, sedangkan TK bisa 5—6 kali seminggu. Jika orangtua memutuskan untuk memasukkan anak pada full day school, banyak hal yang harus dipertimbangkan, terutama kondisi ­fisik anak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *